Langsung ke konten utama

Konsep Jemaah dalam Islam dan Implementasinya

 


(Oleh : Dr. KH. Toto Abu Zulfa Muhammad, M.Ag)

Penulis : Ananda Dwi Hartanto

Kata jamaah harusnya tidak asing lagi bagi telinga umat muslim, apalagi jika dikaitkan dengan sholat. Pada tulisan ini, penulis mencoba mengupas sedikit tentang konsep jamaah dalam Islam dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari, yang diambil dari kajian Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya....

Konsep Jamaah

وَاعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰهِ جَمِيۡعًا وَّلَا تَفَرَّقُوۡا‌ ۖ وَاذۡكُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰهِ عَلَيۡكُمۡ اِذۡ كُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَ لَّفَ بَيۡنَ قُلُوۡبِكُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِهٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَكُنۡتُمۡ عَلٰى شَفَا حُفۡرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَكُمۡ مِّنۡهَا ‌ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمۡ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُوۡنَ

 Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran [3] : 103)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk bersama, berkumpul dan menjaga persatuan antar umat Islam, dengan kata lain ialah berjamaah. Arti jama'ah secara bahasa adalah bersama-sama. Sedangkan arti jama’ah secara istilah adalah melakukan sesuatu dengan cara bersama-sama. Baik dalam sholat maupun di luar sholat.

Dalam ayat diatas, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk memegang tali (aturan) agama Allah atau dalam menegakkan aturan-aturan Allah harus dilakukan dengan bersama-sama secara keseluruhan. Dan itulah yang dinamakan dengan berjama’ah. Apa lagi ditegaskan dengan kalimat berikutnya : Jangan bercerai-berai. Maka semakin mengerucutlah bahwa yang dimaksud ayat di atas adalah perintah untuk berjama’ah.

Itu artinya kaum muslimin wajib unuk bersatu, berama-sama dalam satu kesatuan. Jangan sampai kaum muslimin berpecah-belah atau bergerak secara individual, berjuang sendiri-sendiri. Ibarat domba yang telepas dari kelompoknya maka akan diterkam binatang buas dengan mudah.

Umat Islam akan mudah dipecah belah, diadu domba dan diobang ambing, hingga ditekan, diancam dan diserang jika tidak bersatu. Oleh karena itu persatuan dan kesatuan umat Islam adalah sesuatu yang mutlak dan penting. Karena Islam membawa missi rahmatan lil’aalamiin, yaitu menjadi kekuatan keadilan, kesejahteraan, kedamian, keharmonisan bagi semua alam, baik sesama muslim, dengan non-muslim, terhadap hewan, tumbuhan, sungai, laut, gunung, hutan dan sebaginya. Maka jika Islam dan umat Islam tidak bersatu padu missi perdamaian dunia, keseimbangan, ketentraman dan kebaikan bagi berbagai pihak dan seluruh potensi alam akan runtuh, rusak, hancur, centang perentang, hingga permusuhan, keretakan dan berbagai gejolak akan terjadi.

Demikianlah jika umat Islam tidak bersatu, bersikap individual dan jalan sendiri-sendiri. Maka Islam dan umat Islam juga akan menjadi bulan-bulanan, terdzalimi dan dihancurkan oleh pihak-pihak yang jahat, rakus dan semena-mena. Maka, ayat di atas menjadi landasan kita untuk tetap berpegang teguh di jalan Allah dengan berjamaah, membangun satu kesatuan umat Islam dan jangan sekali-kali terlepas dari satu kesatuan umat tersebut.

Pemimpin dalam Suatu Sistem

Berbicara masalah konsep jamaah, maka harus ada yang namanya kepemimpinan. Dengan adanya kepempimpinan maka jamaah yang merupakan satu kesatuan umat Islam akan terkendali, termanaj dan mudah terarahkan, menjadi sebuah mekanisme sistem.

Sebagai analogi, misalnya dalam sholat berjamaah. Banyak orang yang berkumpul untuk sholat berjamaah, tapi tidak ada imamnya, maka tidak bisa disebut sholat berjamaah. Akan tetapi jika ada 2 orang sholat bersama, kemudian salah seorang menjadi imam, maka itulah sholat berjamaah. Jadi yang menjadi tolak ukur jamaah, bukan dilihat dari banyaknya orang yang berkumpul, tapi ada atau tidaknya imam/pemimpin/koordinator di kumpulan tersebut. Yang kedua, kelembagaan/nuansa/basik yg menjadi missi sekelompok orang-orang beriman yg terkoordinasi tersebut adalah Islam.

Sebagaimana Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu pernah berkata:

إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ

"Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjamaah, dan tidak ada jamaah kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan". (HR. Al-Darimi: 253).

Cukup jelaslah gambaran tentang jamaah menurut Islam yang dinyatakan oleh Umar bin Khatab. Selanjutnya Umar bin Khatab mengungkapkan ; 'dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan'. Artinya, adanya pemimpin itu untuk dipatuhi dan ditaati, selama berpegang kepada al Qur’an dan sunah Rasul. Ilustrasinya, apa artinya kita sholat berjamaah tapi tidak mengikuti perintah-perintah imam? Kalau memang demikian maka tidak usah ikut sholat berjamaah saja karena nilai sholat berjamaahnya menjadi hilang pada saat seorang ma’mum tidak mau mengikuti instruksi-instruksi imam dalam shalat.

 

Ketaatan Hanya pada Satu Sumber

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِيۡـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيۡـعُوا الرَّسُوۡلَ وَاُولِى الۡاَمۡرِ مِنۡكُمۡ‌ۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِىۡ شَىۡءٍ فَرُدُّوۡهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوۡلِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَـوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ ؕ ذٰ لِكَ خَيۡرٌ وَّاَحۡسَنُ تَاۡوِيۡلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(QS. An-Nisa [4] : 59)

Ayat diatas menjelaskan, bahwa kita diperintakan untuk taat kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian. Ulil Amri diantara kalian adalah dari golongan orang-orang beriman itu sendiri. Ketaatan kepada Allah dan Rasul itu mutlak, sedangkan ketaatan kepada Ulil Amriitu bersyarat, sepanjang dia mentaati perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.

 

Jamaah Bagai Bangunan yang Kokoh

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيۡنَ يُقَاتِلُوۡنَ فِىۡ سَبِيۡلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمۡ بُنۡيَانٌ مَّرۡصُوۡصٌ

 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Saff [61] : 4)

Tatkala kita ingin membangun sebuah jamaah atau kesatuan umat, maka kompisisinya harus terdiri dari pribadi-pribadi yang berkualitas iman yang baik, karena kalau tidak, maka akan menjadi bumerang bagi jamaah itu sendiri. Kesatuan jamaah yang terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki keimanan yang baik, maka akan menjadikan jamaah tersebut menjadi lemah, rentan dan mudah diobang-ambing, diobrak-abrik atau diruntuhkan. Komposisi komponan jamaah yang bermasalah akan merusak sistem jamaah dari dalam.

Ibarat sebuah bangunan, yang terdiri dari bahan-bahan yang bagus dan berkualitas, maka akan kokoh bangunan itu dan tidak mudah roboh. Tapi kalau bangunan itu terdiri dari bahan-bahan yang jelek, yang tidak berkualitas, maka bangunan itu tidak akan bertahan lama, mudah rusak dan dirobohkan. Bahan-bahan yang berkualitas juga tidak akan ada artinya, jika bukan merupakan bagian dari sebuah bangunan. Maka masuklah ke dalam struktur bangunan tersebut sehingga fungsi dan peran teraktualkan.Bahan-bahan bagunan yang bagus namun terpisah-pisah atau masing-masing, tidak menyatu dalam satu kesatuan bangunan, maka lama-kelamaan akan mudah rusak dan hancur.

Demikian juga dalam bangunan jamaah. Sehebat apapun kualitas seorang mu’min, jika dia tetap sendiri dalam berjuang dan tidak bersatu dalam gerakan jamaah, maka lama-kelamaah dia akan surut, tersungkur dan terhempas. Karena srigala itu akan menerkam seekor kambing yang terpisah dari kelompoknya. Oleh karena itu umat islam harus bersatu, terkoordinir dan dalam satu komando perintah agar sebuah gerak langkah perjuangan akan seragam, terarah dan kuat guna mencapai kemenangan.

 “Waallahu A’lam Bishshawwab”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Tafsir Muyassar karya Aidh al-Qarni

Oleh : Diki Ramadhan Kitab suci agama Islam adalah Al-Quran, yang berisi tentang, akidah, syariah dan aturan-aturan. Tentunya dalam menterjemahkan Al-Quran dalam kehidupan memerlukan alat bantu yang disebut tafsir. Pada saat ini sudah banyak sekali kitab-kitab tafsir yang bermunculan dengan berbagai metode dan corak penafsiran, salah satu kitab tafsir yang hadir baru-baru ini adalah tafsir Muyassar karya Aidh al-Qarni, dan pada tulisan ini akan sedikit memperkenalkan kitab tafsir tersebut. Biografi Singkat Aidh al-Qarni Aidh al-Qarni lahir di perkampungan al-Qarn tahun 1379H (1960 M). Nama lengkap beliau adalah Aidh Abdullah bin Aidh al-Qarni. Nama al-Qarni diambil dari daerah asalnya di wilayah selatan Arab Saudi. Beliau berasal dari keluarga “Majdu” di perkampungan al-Qarn, sebelah selatan kerajaan Arab Saudi. Di perkampungan ini lah beliau dibesarkan, sejak kecil dia sudah diperkenalkan oleh ayahnya dengan aktivitas keagamaan. Sejak kecil sang ayah sudah membawa al-Qarni ke masjid u...

Pondok Pesantren Tarbiyatul Quran Al-Mujaddid Buka Pendaftaran Santri Baru

  Pondok Pesantren Tarbiyatul Quran Al-Mujaddid  Telah dibuka pendaftaran santri baru program tahfidz dengan biaya sangat terjangkau, Pondok Pesantren Tarbiyatul Quran Tahun Pendidikan 2023-2024.  Pendaftaran dibuka tanggal 10 Januari - 30 Maret 2023 untuk gelombang pertama dan tanggal 5 April - 15 Juni 2023 untuk gelmbang kedua. Pendaftaran dilakukan dengan mengisi link google form yang sudah disediakan: https://forms.gle/mc63keSxns5aVShE9 . Atau bisa juga datang langsung ke kantor pendaftaran di Perum. Bumi Sampiran Indah, Blok. A5, No. 3, Desa Sampiran, Kecamatan Talun (45171) Kabupaten Cirebon - Jawa Barat pada jam kerja pukul 08.30 - 16.00 WIB . Untuk informasi selengkapnya dapat menghubungi call center berikut: 1. 085940654970 (Ust. Syamsi) 2. 08978195938 (Ust. Faisal)

TIJAN: TERAPI PENJIWAAN AL-QURAN (Al-Quran Sebagai Media Terapi Kejiwaan)

 TIJAN: TERAPI PENJIWAAN AL-QURAN  (Al-Quran Sebagai Media Terapi Kejiwaan) Oleh : Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag Al Qur’an Sebagai Sumber Segala Sesuatu Al Qur’an adalah aturan hidup dan kitab bimbingan bagi seluruh umat manusia yang di dalamnya mengandung petunjuk (al-Huda), penjelas (al-Bayinah), hikmah (al-Hikmah), cahaya (an-Nur), pembenda (al-Furqan),   dan masih banyak lagi. Melalui bimbingan al-Qur’an, manusia akan terhantarkan dalam kehidupan yang penuh kedamaian, kemaslahatan, keselarasan, kebahagiaan, keharonisan dan keseimbangan. Hal ini disebabkan karena al-Qur’an diturunkan oleh Allah untuk manusia, manusia sendiri diciptakan oleh Allah, sedangkan kehidupan dan alam semesta yang mengiringi perjalanan manusia juga dubuat oleh Allah. Sesuatu yang sama-sama bersumber dari Allah akan menghasilkan sesuatu yang sinergi dan selaras, karena merupakan bagian yang satu dan terintegral. Al-Qur’an juga merupakan wahyu Allah, yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muh...