TIJAN: TERAPI PENJIWAAN AL-QURAN
(Al-Quran Sebagai Media Terapi Kejiwaan)
Oleh : Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag
Al Qur’an Sebagai Sumber Segala Sesuatu
Al Qur’an adalah aturan hidup dan kitab bimbingan bagi
seluruh umat manusia yang di dalamnya mengandung petunjuk (al-Huda), penjelas
(al-Bayinah), hikmah (al-Hikmah), cahaya (an-Nur), pembenda (al-Furqan), dan masih banyak lagi. Melalui bimbingan al-Qur’an, manusia akan
terhantarkan dalam kehidupan yang penuh kedamaian, kemaslahatan, keselarasan,
kebahagiaan, keharonisan dan keseimbangan. Hal ini disebabkan karena al-Qur’an
diturunkan oleh Allah untuk manusia, manusia sendiri diciptakan oleh Allah,
sedangkan kehidupan dan alam semesta yang mengiringi perjalanan manusia juga
dubuat oleh Allah. Sesuatu yang sama-sama bersumber dari Allah akan
menghasilkan sesuatu yang sinergi dan selaras, karena merupakan bagian yang
satu dan terintegral.
Al-Qur’an juga merupakan wahyu Allah, yang dibawa
Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Bahkan al-Qur’an merupakan
wahyu yang terakhir, Yang diturunkan dalam sejarah kenabian. Sebagai wahyu yang
terakhir untuk membimbing kehidupan manusia hingga akhir jaman, tentunya
al-Qur’an dibuat sesempurna mungkin, sekaligus melengkapi dan menyempurnakan
wahyu-wahyu yang telah turun sebelumnya. Dengan demikian al-Qur’an adalah wahyu
yang paling sempurna yang pernah di turunkan ke muka bumi.
Al-Qur’an juga merupakan mukjizat kenabian. Sebelumnya
Allah telah menurunkan mukjizat-mukjizat kepada para Nabi yang beraneka ragam. Seperti
halnya Nabi Ibrahim tidak hangus terbakar dibakar api, Nabi Musa dapat membelah
laut dan melempar tongkat menjadi ular, Nabi Sulaiman mampu menundukkan bangsa
Jin dan dapat berbicara dengan binatang, Nabi Isya mampu menyembuhkan penyakit
dan menghidupkan orang mati. Semua mukjizat itu merpakan kesistimewaan dan
sesuatu yang luar biasa yang Allah tunjukkan kepada manusia. Sedangkan
al-Qur’an, selain sebagai kitabullah (kitab petunjuk bagi manusia), juga
merupakan “mukjizat terbesar” yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebagai mukjizat terbesar, tentunya keberadaannya akan lebih dan derajatnya di
atas dari mikjizat-mukjizat yang lain yang pernah ada. Dengan demikian al-Qur’an itu
sangat luar biasa dan sangat istimewa. Hal itu akan dapat kita buktikan dan
kita rasakan, manakala kita menggalinya, menyatukan jiwa dengan ayat-ayat-Nya
dan mengamalkannya dengan ikhlas hanya untuk mengharap ridha Allah SWT saja.
Dan yang namanya mukjizat tentunya punya fenomena unik, jangankan yang mungkin,
yang tidak mungkin saja bisa terjadi, jika Allah menghendaki.
Al Qur’an dan Realita Kehidupan
Selama ini al-Qur’an sudah menjadi pusat bacaan,
pusat pengkajian dan pusat ilmu pengatahuan. Bahkan al-Qur’an juga merupakan pusat sumber hukum dan
aturan bagi kehidupan manusia. Berbagai upaya para ulama sudah mencoba
memperdayakan al-Qur’an, bahkan dari berbagai sisi al-Qur’an sudah banyak
dikaji, diteliti dan diaktualkan. Al-Qur’an benar-benar menjadi objek fenomena
yang menarik dan mendasar, karena tidak akan pernah habis digali, tidak akan
pernah kering untuk dikaji dan tidak akan pernah selesai dipelajari. Sudah
merupakan nilai lebih dari al-Qur’an sebagai mukjizat, dimana al-Qur’an itu
makin digali maka semakin dalam, makin dikaji maka semakin berkembang dan semakin
dipelajari maka semakin banyak hal-hal baru yang ditemukan.
Selain persoalan yang terkait dengan ibadah ubudiyah,
yang merupakan aturan baku yang tidak boleh diubah-ubah sebagai syare’at yang
mutlak, seperti halnya sholat, shaum, haji dan lain sebagainya, maka hal-hal
lain dalam al-Qur’an bersifat dinamis dan berkembang. Bahkan banyak hasil dari
penelitian-penelitian yang terbaru, yang mengungkap tentang kebenaran isi
al-Qur’an. Hasil dari penelitian ilmiah modern saat ini sesungguhnya sudah
tertulis dalam al-Qur’an sejak empat belas abad yang lalu.
Program-program penguasaan dan pengkajian al-Qur’an
yang sudah banyak berkembang selama ini, seperti pembelajaran membaca
al-Qur’an, tajwid dan makhraj, qira’ah, tahfidz, kajian bahasa dan I’rab
al-Qur’an, tafsir al-Qur’an serta berbagai pengkajian dan pembelajaran
al-Qur’an yang lainnya sudah cukup bagus dan berdampak positif. Artinya
al-Qur’an dapat digali dan dikaji dari berbagai sisi, dan sudah memberikan
banyak manfaat bagi umat manusia, kehidupan, alam semesta dan berbagai hal yang
mengiringinya. Namun demikian, kita sangat yakin bahwa masih banyak lagi bagian
dari sisi-sisi al-Qur’an yang belum tergali dan terkaji. Yang sudah tergali dan
terkaji saja masih banyak ruang untuk dapat dikembangkan lebih jauh.
Oleh karena itu diperlukan upaya untuk terus dan terus
mengembangkan apa yang sudah ada, serta terus mengali dan meggali, juga terus
mengkaji dan mengkaji apa-apa yang terkandung dalam al-Qur’an. Salah satu hasil
penggalian dan pengkajian yang sudah didapat adalah ditemukannya program
“terapi” dalam al-Qur’an. Yaitu satu model terapi yang berbeda dengan
model-model terapi lain, yang juga digali dari al-Qur’an.
Dewasa ini banyak sekali terjadi masalah-masalah yang
pelik dalam kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan jaman,
teknoligi, informasi dan peradaban modern yang begitu cepat, sementara tidak
diimbangi dengan pembangunan benteng-benteng keimanan yang lebih intensif dan
kuat. Sehingga berbagai kemudharatan terjadi dan menimpa manusia. Dijaman yang
semakin maju ini, justru semakin banyak orang yang stress, galau, tidak
setabil, kacau, rusak hingga pada tingkat kebobrokan. Bermunculanlah
pribadi-pribadi yang buruk, sifat yang jelek serta prilaku-prilaku yang jahat
dan menyimpang. Juga banyak rumah tangga-rumah tangga yang tidak harmonis,
kacau, penuh gejolak dan berantakkan. Berbagai solusi dan upaya sudah
dilakukan, baik melalui pendekatan pribadi, kekeluargaan, psikologi, social,
hukum hingga ke penyelesaian supra natural melalui para-normal dan berbagai
upacara ritual. Namun sayang, belum banyak yang menyelesaikan masalah melalui
pendekatan al-Qur’an. Padahal al-Qur’an adalah sebagai al-huda (petunjuk
segala sesuatu, termasuk petunjuk untuk menyelesaikan berbagai masalah).
Al-Qur’an juga sebagai al-Syifa’, yaitu sebagai obat dan penawar dari
berbagai macam penyakit dan masalah, baik penyakit dan masalah hati, kejiwaan
maupun penyakit-penyakit masyarakat beserta masalah-masalahnya. Tapi al-Qur’an
cenderung dilupakan untuk menjadi ‘terapi” dalam menanggulangi itu semua.
Selain dari itu, adanya fenomena kontradiktif yang ada
antara ayat dengan realita kehidupan, hal ini juga ikut melatarbelakangi untuk
mencari jawab melalui al-Qur’an itu sendiri. Seperti antara ayat dan realita
berikut ini :
Ayat mengatakan,
tûïÏ%©!$# ãNßg»oY÷s?#uä |=»tGÅ3ø9$# ¼çmtRqè=÷Gt ¨,ym ÿ¾ÏmÏ?urxÏ? y7Í´¯»s9'ré& tbqãZÏB÷sã ¾ÏmÎ/ 3 `tBur öàÿõ3t ¾ÏmÎ/ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbrçÅ£»sø:$# ÇÊËÊÈ
“Orang-orang
yang telah Kami berikan Al kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan
yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. dan Barangsiapa yang ingkar
kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah [2] : 121)
Realitanya : Banyak orang yang rajin membaca
al-Qur’an, bahkan senantiasa mengkajinya, namun mereka tidak mengimaninya dan
tidak meningkat-meningkat keimanannya. Perilaku para pembaca al-Qur’an tidak
sesuai dengan ayat yang dibaca dan dikajinya, bahkan sebagian ayat diterima
tapi sebagian besar yang lain ditolaknya. Dengan alasan ayat ini sudah tidak
sesuai dengan situasi, kondisi dan perkembangan jaman yang ada.
Ayat mengatakan ,
ã@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7øs9Î) ÆÏB É=»tGÅ3ø9$# ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( cÎ) no4qn=¢Á9$# 4sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# Ìs3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷èt $tB tbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ
“Bacalah
apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al
Ankabuut [29] : 45).
Realitanya : Banyak orang yang sholat tapi perbuatan
dosa masih senantiasa dilakukannya.
Ayat menyatakan,
$ygr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã úïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)Gs? ÇÊÑÌÈ
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah [2] : 183)
Realitanya : Banyak orang yang setiap tahun
menjalankan shaum Ramadhan, tapi derajat taqwa tidak pernah dapat diraihnya.
Kenapa antara ayat dan realita bertolak belakang?
Apakah ayat Allah yang salah ataukah manusianya yang salah? Adalah hal yang
amat mustahil kalau ayat Allahnya yang salah, pasti ada sesuatu yang salah pada
diri manusia, sehingga itu semua tidak memberikan dampak perubahahan hidupnya.
Hal ini bisa dimengerti, mengingat : (1) Tadarus, sholat dan shaum hanya dilakukan
secara aspek dhohiri saja tidak sampai kepada aspek bathini. (2) Tadarus,
sholat dan shaum hanya dilakukan secara pendekatan syar’i saja tidak sampai
kepada pendekatan “terapi”, yang akan menghantarkan pada perubahan diri.
Program Terapi Penjiwaan Al Qur’an (Tijan)
Klasifikasi Pendidikan dan Pembinaan al-Qur’an meliputi :
1. Program JIPING (Ngaji Kuping) : Ngaji berbentuk kajian-kajian ilmu
dan wawasan, seperti Ceramah, Tafsir, Kajian Hadits, Fiqih dan berbagai kajian
Islam lainnya.
2. Program JIHAN (Ngaji dalam bentuk Latihan) : Latihan-latihan secara
konkrit agar hasil JIPING bisa terlatih secara nyata dengan benar.
3. Program JITI (Ngaji dalam bentuk Terapi) : Terapi-Terapi Ruhaniyah agar setiap ubudiyah serta gerak-langkah Jihad, da’wah dan fi sabilillah, juga berbagai aktifitas lainya ada “ruh”-nya, tidak kering dan kosong dari nuansa hati dan jiwa, sehingga hati dan jiwa sebagai instrument ruhani menjadi sentral kendali dan sumber energy keimanan untuk mencapai “perubahan” yang labih baik.
Nama program pembinaan ini adalah Terapi Penjiwaan Al-Qur’an atau disingkat
dengan nama TIJAN. Kata
Tijan atau dalam lafadz Arab ditulis Tiijaan juga mempunyai arti :
Mahkota. Program Terapi Penjiwaan Al-Qur’an (Tijan) adalah sebuah proram
kegiatan pendidikan dan pelatihan yang bersifat pembinaan dan terapi ruhiyah
dalam rangka pembentukan jiwa qur’aniyah atau kepribadian yang Islami. Terapi
Penjiwaan Al-Qur’an atau Tijan mengandung muatan isi berupa terapi-terapi
ubudiyah (Ibadah Ritual), amalaiyah dan bathiniyah, yang dilengkapi dengan
psikoterapi Qur’an, bimbingan & konsultasi Masalah, serta beberapa metode
pendukung.
Penjelasan program ini adalah : (1)Terapi ubudiyah,
amaliyah dan bathiniyah adalah sebuah kegiatan pembinaan yang menjadikan
ibadah-ibadah ritual (maghdhoh) dalam Islam, praktek aktifitas dan amal,
serta aspek jiwa mampu meyatu, merekat-erat dan hidup menjadi “ruh” dalam
setiap ibadah dan ruang aktifitas kita. Sedangkan (2) Psikoterapi Qur’an
adalah sebuah terapi mental dan kejiwaan berdasarkan al-Qur’an dan menjadikan
ayat-ayat al-Qur’an sebagai media penjiwaan, dzikir dan penghantar do’a, untuk
membangkitkan sugesti, keyakinan dan kebulatan tekad untuk terjadinya perubahan
dalam diri seseorang, yang dilaukan secara praktis, singkat dan bisa berfungsi
sebagai pertolongan darurat yang langsung bisa dirasakan hasilnya. Adapun (3)
Bimbingan
& Konsultasi Masalah adalah upaya arahan dan pemecahan berbagai masalah
yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul. (4) Metode Pendukung
adalah ilmu alat dan teknik pembelajaran secara mudah, cepat dan praktis, yang
terkait dengan cara menterjemahkan Qur’an dan Hadits, Pembelajaran bahasa Arab
al Qur’an, teknik penjiwaan.

Komentar
Posting Komentar