Langsung ke konten utama

Hakikat Penciptaan Manusia dalam Al-Quran

 


 (Kajian Dr. KH. Toto Abu Zulfa Muhammad, M.Ag)

Penulis : Alwin Fajar

        Manusia ialah makhluk yang Allah ciptakan sama seperti makhluk-makhluk Allah lainnya, layaknya malaikat, jin, hewan, dan alam semesta. Mereka diciptakan tentunya untuk tunduk dan taat kepada Allah sesuai dengan porsi mereka masing-masing, yang menjadi keserasian dan keharmonisan berjalannya alam semesta ini dengan baik. Lalu bagaimana dengan manusia yang Allah ciptakan untuk tunduk dan patuh tapi pada kenyataannya banyak manusia yang mengabaikan fitrah manusia itu sendiri? Pada tulisan ini mudah-mudahan bisa memberikan sedikit ilmu dan pencerahan bagi kita semua tentang hakikat diciptakannya manusia.

Judul Besar Diciptakannya Manusia

        Allah Swt telah memberikan keterangan kepada kita semua bahwa diciptakannya manusia ialah untuk beribadah  kepada Allah semata, dalam firmannya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51] : 56).

        Maka sepatutnya bagi kita menjadikan hidup ini untuk beribadah di mana pun kita berada dan apa pun yang kita lakukan merupakan wujud ibadah kepada Allah Swt. Kata لِيَعْبُدُوْنِ  di sini merupakan kata fiil madhi yang memiliki fail yaitu عابد  artinya orang yang beribadah atau budak. Kemudian kita akan bertanya di dalam hati "budak siapakah kita sebenarnya?", maka jawabannya ialah semua manusia adalah budaknya Allah, dengan kata lain sebagai hamba Allah. Hamba Allah yang Dia ciptakan, yang Dia beri kelebihan, Dia penuhi kebutuhannya, Dia kabulkan permintaannya, Dia jaga kehidupannya dan masih banyak lagi karunia Allah yang telah diberikan kepada manusia, baik  yang disadari maupun yang tidak disadari.

        Setelah kita memahami sebagai seorang hamba atau budak milik Allah Swt yang maha segala maha. Maka tugas kita ialah patuh dan tunduk kepada apa-apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa-apa yang Allah larang, karena seorang budak esensinya ialah patuh dan taat kepada tuannya. Dalam kitab suci Al-Quran, Allah Swt menurunkan ayatnya yang pertama, yaitu :

اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-'Alaq [96] : 1).

        Kalimat إقرأ  adalah kata perintah yang artinya "bacalah!", yang mengandung muatan sebagai “perintah Allah,” konsekuensi sebuah “perintah” adalah untuk ditaati. Oleh karena itu manusia wajib menaati apa yang menjadi perintah Allah tersebut. Ketaatan dan kepatuhan kepada Allah Swt adalah fitrah bagi manusia. Bahkan bukan hanya manusia saja tapi juga semua makhluk pun memiliki fitrah yang sama, yaitu patuh dan taat kepada yang menciptakannya. Ibadah  merupakan sikap ketaatan kepada perintah Allah. Seluruh aspek kehidupan manusia harus bernilai ibadah agar manusia senantiasa berada dalam fitrahnya, yaitu mengaktualkan wujud ketaatan kepada perintah-perintah Allah Swt.

Hikmah dalam Fitrah Ketaatan

          Alam semesta yang luas ini telah Allah ciptakan dengan sedemikian indah, harmonis dan teratur, karena planet-planet dan bintang-bintang memiliki sikap ketaatan kepada Allah untuk tetap pada poros dan lintasan yang Allah tetapkan. Jika planet-planet dan bintang-bintang tidak mau tunduk dan taat kepada apa yang sudah Allah tetapkan dalam tatanan alam semesta untuk tetap pada poros dan lintasannya, maka akan terjadi kekacauan bahkan kehancuran alam semesta. Jangankan semua planet dan bintang keluar dari ketaatan, satu planet saja keluar dari poros atau lintasannya maka akan mempengaruhi keseimbangan sistem yang berjalan di alam semesta, yang bisa menimbulkan kekacauan hingga kehancuran.

Begitu pun juga dengan manusia, apa bila manusia keluar dari fitrahnya untuk tunduk dan taat kepada perintah-perintah Allah Swt yang merupakan wujud ibadah, maka akan terjadi kekacauan hingga kehancuran dalam kehidupan manusia. Namun jika manusia tetap pada fitrahnya dengan melakukan ketundukan dan ketaatan kepada Allah maka akan terjadi keharmonisan, keindahan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia.

“Wallahua’lam”  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Tafsir Muyassar karya Aidh al-Qarni

Oleh : Diki Ramadhan Kitab suci agama Islam adalah Al-Quran, yang berisi tentang, akidah, syariah dan aturan-aturan. Tentunya dalam menterjemahkan Al-Quran dalam kehidupan memerlukan alat bantu yang disebut tafsir. Pada saat ini sudah banyak sekali kitab-kitab tafsir yang bermunculan dengan berbagai metode dan corak penafsiran, salah satu kitab tafsir yang hadir baru-baru ini adalah tafsir Muyassar karya Aidh al-Qarni, dan pada tulisan ini akan sedikit memperkenalkan kitab tafsir tersebut. Biografi Singkat Aidh al-Qarni Aidh al-Qarni lahir di perkampungan al-Qarn tahun 1379H (1960 M). Nama lengkap beliau adalah Aidh Abdullah bin Aidh al-Qarni. Nama al-Qarni diambil dari daerah asalnya di wilayah selatan Arab Saudi. Beliau berasal dari keluarga “Majdu” di perkampungan al-Qarn, sebelah selatan kerajaan Arab Saudi. Di perkampungan ini lah beliau dibesarkan, sejak kecil dia sudah diperkenalkan oleh ayahnya dengan aktivitas keagamaan. Sejak kecil sang ayah sudah membawa al-Qarni ke masjid u...

Pondok Pesantren Tarbiyatul Quran Al-Mujaddid Buka Pendaftaran Santri Baru

  Pondok Pesantren Tarbiyatul Quran Al-Mujaddid  Telah dibuka pendaftaran santri baru program tahfidz dengan biaya sangat terjangkau, Pondok Pesantren Tarbiyatul Quran Tahun Pendidikan 2023-2024.  Pendaftaran dibuka tanggal 10 Januari - 30 Maret 2023 untuk gelombang pertama dan tanggal 5 April - 15 Juni 2023 untuk gelmbang kedua. Pendaftaran dilakukan dengan mengisi link google form yang sudah disediakan: https://forms.gle/mc63keSxns5aVShE9 . Atau bisa juga datang langsung ke kantor pendaftaran di Perum. Bumi Sampiran Indah, Blok. A5, No. 3, Desa Sampiran, Kecamatan Talun (45171) Kabupaten Cirebon - Jawa Barat pada jam kerja pukul 08.30 - 16.00 WIB . Untuk informasi selengkapnya dapat menghubungi call center berikut: 1. 085940654970 (Ust. Syamsi) 2. 08978195938 (Ust. Faisal)

TIJAN: TERAPI PENJIWAAN AL-QURAN (Al-Quran Sebagai Media Terapi Kejiwaan)

 TIJAN: TERAPI PENJIWAAN AL-QURAN  (Al-Quran Sebagai Media Terapi Kejiwaan) Oleh : Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag Al Qur’an Sebagai Sumber Segala Sesuatu Al Qur’an adalah aturan hidup dan kitab bimbingan bagi seluruh umat manusia yang di dalamnya mengandung petunjuk (al-Huda), penjelas (al-Bayinah), hikmah (al-Hikmah), cahaya (an-Nur), pembenda (al-Furqan),   dan masih banyak lagi. Melalui bimbingan al-Qur’an, manusia akan terhantarkan dalam kehidupan yang penuh kedamaian, kemaslahatan, keselarasan, kebahagiaan, keharonisan dan keseimbangan. Hal ini disebabkan karena al-Qur’an diturunkan oleh Allah untuk manusia, manusia sendiri diciptakan oleh Allah, sedangkan kehidupan dan alam semesta yang mengiringi perjalanan manusia juga dubuat oleh Allah. Sesuatu yang sama-sama bersumber dari Allah akan menghasilkan sesuatu yang sinergi dan selaras, karena merupakan bagian yang satu dan terintegral. Al-Qur’an juga merupakan wahyu Allah, yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muh...